Minggu, 06 Mei 2012

Strategi Manajemen Dahlan Iskan Dalam Memajukan PLN melalui Knowladge Management


                                       Oleh : 

                     Edward Ferydyas 

                 110610076/PMDO kelas : B

                  Ketika menjabat sebagai Direktur Utama di PT PLN, Dahlan Iskan merupakan sosok yang sangat berpengaruh bagi PLN. Meskipun ketika awal menjabat sebagai Direktur Utama.beliau masih belum memahami tentang listrik, tetapi Dahlan Iskan berusaha sebaik mungkin untuk memahami hal-hal yang terkait dengan listrik dengan cara kursus kilat pada minggu pertama dari salah satu manajer yang memahami betul mengenai listrik. selain itu informasi lain yang terkait dengan listrik beliau terima dari berbagai berbagai sumber, baik itu berasal dari kritik dan saran dari masyarakat ataupun dari diskusi dengan para anggota perusahaan dan lain-lain. Pada awalnya ketika menjabat sebagai Direktur Utama PLN beliau mengalami penolakan dan diragukan kemampuannya dalam memimpin perusahaan. Namun Dahlan Iskan berusaha untuk untuk bekerja dengan wajar.

              Pada saat itu harapan dari perusahaan menginginkan agar menanggulangi krisis listrik yang berdampak pada pemadaman bergilir. Sehingga pada saat rapat disimpulkan bahwa penganganan krisis listrik berakhir dalam waktu 6 bulan. Saat kebijakan itu berhasil maka kepercayaan dari perusahaan juga meningkat. Inti dari Knowladge management  adalah observasi yang dilakukan oleh Dahlan Iskan dengan cara melakukan observasi di banyak tempat terkait dengan pasokan listrik entah pasokan listrik tercukupi ataupun belum mencukupi. serta melakukan evaluasi dan studi banding ke negara-negara yang memiliki manajemen listrik yang efisien. setelah memperoleh informasi ini Dahlan Iskan kemudian menyusun kebijakan terkait dengan pasokan listrik dan memenuhi harapan masyarakat agar tidak terjadi pemadaman bergilir. selain itu Dahlan Iskan juga berusaha untuk mengupayakan agar mencoba sumber daya yang lebih murah agar tidak terus merugi yang akhirnya perusahaan menjadi untung.

                   Dalam hal Knowladge Worker Dahlan Iskan merotasi kembali karyawannya dan meletakkan posisi sesuai dengan bidang keahlian. namun terdapat kelemahan dari kebijakan yang dicanangkan oleh beliau terkait dengan sumber daya manusia. yakni dalam hal promosi jabatan. dalam promosi jabatan ini tidak didasarkan pada lamanya seorang karyawan mengabdi di perusahaan (pengalaman kerja) tetapi justru kearah pengetahuan dan tingkat pendidikan seseorang. Sehingga terkadang dirasa tidak adil oleh karyawan yang telah lama bekerja di perusahaan. cara yang dilakukan ini dengan memangkas syarat kenaikan jabatan yang sebelumnya sembilan syarat harus terpenuhi menjadi empat syarat sehingga karyawan yang masih mudapun dapat dipercaya menjadi direktur. Hal ini terkait dengan pemikiran beliau terkait dengan kemerdekaan ide yang dikemukakannya sekaligus asumsinya serta kepercayaannya bahwa karyawannya ini merupakan lulusan terbaik dari universitas terbaik sehingga tidak ada alasan untuk diragukan kemampuan karyawannya.

                    Terkait dengan Knowladge Strategy ini Dahlan Iskan lebih condong dalam melakukan live chatting dan diskusi dengan seluruh karyawan. Begitu pula kebijakan terkait dengan CEO note yang dicanangkan. Diharapkan dengan adanya note ini alur pikiran dan harapan dari pimpinan dengan bawahan dapat dijembatani dengan baik. hal ini dikarenakan waktu untuk melakukan diskusi dengan bawahan ini yang terbatas dan juga jumlah karyawan PLN yang tidak sedikit. akan tetapi note ini selalu mendapat respon dari baik itu dari pimpinan maupun bawahan. sehingga kinerja dari perusahaan masih terus sesuai dengan apa yang diharapkan.

                       Terkait dengan Knowladge Management dan strategi bisnis. Kebijakan yang dikemukakan oleh Dahlan Iskan dipersiapkan dengan baik dari berbagai sisi. hal ini dilakukan agar kebijakan yang telah ditetapkan dan disetujui oleh banyak pihak ini dapat dijalankan dengan baik dan tidak berhenti ditengah jalan ketika terjadi permasalahan mendatang. salah satunya adalah dalam penghematan anggaran kerja. yakni membeli sumber daya yang lebih murah tetapi tetap memperhatikan kualitas barang tersebut. semisal dalam memilih sumber listrik termurah beliau masih berpatokan dengan harga dan kualitas dipasaran. meskipun begitu beliau tetap mempertimbangkan sumber listrik yang lain. Selain itu dalam hal pelayanan, Dahlan Iskan berusaha meminimalisir pemadaman bergilir dengan cara pengadaan sistem listrik kepulauan dan melakukan penghentian pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai dan menggantinya dengan penggunaan trafo IBT yang listriknya berasal dari pembangkit listrik yang masih surplus cadangan listriknya.

sumber referensi :

Amstrong M.(2010). Amstrong's Essential Human Resource Management Practice.London.Kogan Page.
http://dahlaniskan.wordpress.com/2010/07/17/dua-tangis-dan-ribuan-tawa/
http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1822:dialog-kepemimpinan-bersama-dahlan-iskan-dirut-pln&catid=39%:betti-content&Itemid=30

Senin, 24 Mei 2010

Bahasa Sebagai media dalam berkomunikasi pada Budaya

Penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari–hari saat ini memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah pada diri setiap individu dalam komunitas sendiri maupun komunitas lain. Manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk yang memimpin mahluk yang lain yang ada dibumi ini dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh anusia yakni pembentukan budaya yang kemudian menentukan sebuah bahasa. Dalam penggunaan bahasa ini sedikit perlu ditekankan bahwa peaknaan bahasa dalam budaya tidak hanya menyangkut sebuah ucapan semata tetapi lebih dari itu. Bahasa dapat engarah pada non verbal juga karena factor penguat dan penegasan dari sebuah budaya terkadang tidak berupa ucapan tetapi dari gerak tubuh, tulisan, dan sebagainya.

Mengenai awal tibulnya sebuah bahasa dalam budaya. Bagaimana itu bisa terjadi? Pada mulanya sejarah memang menyebutkan bahwa asal mulanya sebuah bahasa dalam budaya itu dipengaruhi oleh interaksi pada manusia pada zaman batu, yakni ketika mereka berusaha menyampaikan apa yang mereka saksikan maupun yang mereka alami. Karena pada saat itu belum ada tanda-tanda maupun symbol-simbol yang ada dikalangan manusia pada waktu itu mereka kemudian memberikan suatu symbol tersendiri yakni dengan cara menggambar pada dinding yang tertera pada batu-batuan maupun dinding-dinding gua. Sehingga mereka bisa menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Ketika peradaban sudah mulai berkembang. Maka gambar-gambar itu kemudian beralih kepada sebuah bentuk yang terbaru. Hal inilah yang disebut dengan awal mulanya huruf. Terntu tidak serta-merta huruf-huruf pada zaman kuno tersebut bisa diucapkan begitu saja dengan mudahnya. Karena itu diperlukan sebuah proses yang cukup memakan waktu dibagian pengenalannya pada lingkungan budaya yang didiami oleh orang-orang pribumi pada suatu budaya. Ketika peran bahasa itu semakin menguat baru diperkenalkan pada budaya yang lain melalui interaksi dan perpindahan penduduk maupun pola perdagangan. Sehingga bahasa bisa dikenal oleh pihak lain. Karena terus terjadinya perubahan zaman dan pola yang mungkin mirip itu, akhirnya bahasa yang digunakan adalah seperti sekarang ini. Jika dicontohkan yakni bahasa Melayu. Pada awalnya merupakan bahasa yang dikemukakan dan digunakan oleh komunitas yang kecil kemudian terus dikembangkan oleh pengguna bahasa tersebut akhirnya terus menyebar yang kemudian menjadi bahasa yang digunakan pada komunitas makro. Dalam pengkategorian bahasa ini melingkupi yakni :

Bahasa yang bersifat verbal maupun non verbal.

Dalam hal ini bahasa yang verbal sudah jelas yakni bahasa yang sering kita ucapkan sehari-hari baik itu pada diri sendiri maupun orang lain. Dalam bahasa yang sifatnya verbal ini merupakan dasar pada penyampaian suatu pesan kepada orang lain. Sementara bahasa yang bersifat nonverbal yakni dapat berupa gerak tubuh, tulisan yang terlampir maupun hal-hal sebagainya. Tujuannya yakni dapat berupa penyampaian informasi dan juga sebagai penguat informasi yang yang berbentuk verbal itu.

Bahasa berwujud tulis maupun lisan.

Dalam penggunaan bahasa kita sering menemui bentuk huruf atau dan angka yang ada di berbagai tempat. Inilah yang disebut dengan tulisan. Sementara yang berbentuk lisan sudah jelas yakni yang biasa kita ucapkan.

Bahasa resmi dan bahasa pergaulan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari ada beberapa penggolongan yang sudah sering kita jumpai yakni penggunaan bahasa yang resmi maupun bahasa pergaulan. Dalam penggunaan bahasa yang resmi biasanya digunakan di tepat atau situasi yang sifatnya formal seperti diruang sidang dalam rapat suatu pembahasan maupun dalam kegiatan formal lainnya. Beda halnya mengenai bahasa pergaulan. Bahasa pergaulan sudah tentu biasa diucapkan dalam situasi yang nonformal. Tapi terkadang dalam situasi formal seseorang tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang nonformal semisal dalam kegiatan belajar maupun perkuliahan.

Daftar Referensi.

1. Burgon & Huffner. 2002. Human Communication. London: Sage Publication

2. M. Ghojali Bagus A.P.& Tim. 2010. Hand Out Psikologi Komunikasi.